Memahami Akar Gejolak Bursa dari "Short Selling" (gejolak bursa short selling illegal trading) Arsip.info adalah portal perpustakaan digital Indonesia yang berisi arsip artikel, berita, dan foto yang bermutu dan berkualitas dari sumber-sumber terpercaya.gejolak bursa, short selling, illegal tradinggejolak bursa, short selling, illegal tradinggejolak bursa, short selling, illegal trading


Arsip > Bisnis > Berita > Bursa > Saham >
Biro Jodoh Online
Get your soulmate! Temukan pasangan sehati-sejiwa anda di sini!
Senin Wage, 13 Oktober 2008 - 05:35 WIB

Memahami Akar Gejolak Bursa dari "Short Selling"

Jakarta - Bayangkan anda pemilik perusahaan sehat yang menerbitkan 30 persen sahamnya di pasar modal. Proses produksi perusahaan anda bekerja normal, tiap tahun laba tumbuh, likuiditas tidak bermasalah sehingga tak pernah kesulitan membayar gaji karyawan atau belanja perusahaan tetapi tiba-tiba aset perusahaan jatuh tertimpa amblasnya harga 30 persen saham di bursa setelah investor melepasnya tanpa mengindahkan baiknya fundamental perusahaan anda.
Proses Short Selling
Bagaimana perasaan anda? Tidak adil bukan? Tetapi ini yang terjadi pada pasar modal global di mana General Motors, Morgan Stanley dan banyak perusahaan sehat di AS dan Eropa mengalami erosi aset padahal tak ada yang salah dalam fundamental mereka.

Mereka adalah korban dari kekalutan berbalut keserakahan yang disebarkan para pengail untung di pasar modal yang mencampakkan fundamental emiten, diantaranya lewat pola "short selling."

Time, dalam edisi 12 September 2008 menulis, setiap kali pasar finansial runtuh maka telunjuk tuduhan diarahkan ke "short selling" karena meski legal, pola transaksi saham ini kerap membuat pasar yang oleng semakin terjun ke jurang kebangkrutan.

"Para pelaku "short selling" itu penjarah di reruntuhan," tuduh Andrew Cuomo, Jaksa Agung New York, AS.

Tidak heran, saat "bailout" miliaran dolar AS tak menghasilkan apa-apa dan malah menghancurkan perusahaan-perusahaan sehat di banyak negara, Financial Service Authority Inggris (FSA) mencucuk "short selling" karena menjadi biang kerok rontoknya bursa London.

"(Larangan) ini untuk melindungi integritas dan kualitas fundamental bursa serta menjaga sektor keuangan agar tidak terus-terusan goyah," terang Kepala FSA Hector Sants seperti dikutip Huffington Post (12/10).

Bursa London dan Wall Street tidak memilih suspensi (penghentian sementara transaksi saham) karena mungkin dianggap pemurtadan pasar bebas, tetapi memilih mengunci gerbang "short selling."


Risiko


Peraih Nobel Perdamaian asal Bangladesh, Muhammad Yunus menilai, kapitalisme yang wujud kasarnya terekspresi di pasar modal telah menjadi kasino atau tempat judi. Dan "short selling" adalah layar untuk menerangkan bagaimana praktik judi itu terjadi.

Mengutip BBC, "short selling" adalah upaya investor membeli aset satu emiten atau lebih untuk dijual di bursa dengan harapan harganya jatuh, lalu mereka membeli kembali (buy back) pada harga jatuh itu.

Mereka kemudian membayar perusahaan penerbit atau kreditor saham pada harga jatuh, padahal nilai riil perusahaan lebih dari itu.

Investor mengusai aset perusahaan pada harga berlipat tanpa menginjeksikan sepeser pun dana ke perusahaan itu.

Mereka mentransaksikan risiko aset tanpa benar-benar menguasai aset, namun berkuasa dalam merekayasa harga aset dengan mengeksploitasi ekspektasi, memanipulasi prediksi dan mendramatisasi informasi untuk menggiring pasar membentuk harga disasar.

Bayangkan jika anda pelaku perdagangan berjangka atau kontrak derivatif aset yang memegang opsi untuk menjual atau membeli saham, indeks, surat utang atau kontrak barang pada syarat telah ditentukan namun belum menyerahkan uang untuk menyelesaikan transaksi.

Anda menggenggam opsi beli pada harga Rp10.000 dan opsi jual pada harga Rp15.000, namun anda ingin membeli di bawah Rp10.000 dan menjualnya di atas Rp15.000.

Maka, yang anda lakukan adalah mengelola sentimen dan informasi untuk memengaruhi atau bahkan merusak ekspektasi harga aset sampai semua orang terdorong melepas aset sejenis dengan anda pegang.

Setelah investor lain melepas aset yang harganya sudah teramputasi, anda menangkap kembali aset itu melalui "buyback" sehingga aset itu kini dikuasai anda dengan ongkos rendah dan kekuasaan besar dalam menentukan harga jual di kemudian waktu.

Ketika anda menginginkan untung, maka aset anjlok itu dijual pada harga tinggi di satu momen yang ditentukan oleh anda. Hasilnya, anda pulang ke rumah sebagai OKB (orang kaya baru) sambil menjinjing aset perusahaan tanpa sepeser pun modal anda di neraca perusahaan itu.

Mungkin dalam konteks inilah, Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan mensuspensi perdagangan saham di hampir sepekan kemarin karena pergerakan bursa sudah irasional dan kentara mencoret-coret kertas yang sudah terisi rapi.

Kepada Metro TV akhir pekan lalu, Direktur Utama BEI Erry Firmansyah menandaskan, suspensi BEI tidak ditempuh karena otoritas bursa panik, melainkan karena melihat perdagangan saham sepekan kemarin sudah tidak normal.

Erry benar, karena alangkah tidak bermoral jika BEI membiarkan spekulasi yang tak memiliki kaitan dengan fundamental pasar, merusak aset perusahaan untuk kemudian menularkan wabah krisis ke keseluruhan perekonomian.

"Kami tak bisa membiarkan situasi kalut mengendalikan pasar kita," kata Ketua Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) A. Fuad Rachmany.

Sumber: Antara - URL Sumber: klik di sini
URL Arsip: http://arsip.info/08_10_13_053543.html

 

[ Kirim Tanggapan Atas Artikel Ini ]
Untuk mengirim tanggapan anda harus mendaftar dulu di sini

Selasa Wage, 06 Januari 2009
Arsip Gateway
ID Member
Kata Sandi
Fitur Spesial
Polling Minggu Ini
Apakah anda pernah melakukan korupsi?
Sering sekali
Sering
Jarang
Tidak pernah

Download Arsip
Kalender Bulan Ini
M S S R K J S
        01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Arsip Masa Lalu

Online Statistics

Real IP Address   User IP Address
Your IP   [ 38.103.63.61 ]

Web Statistics  Realtime Statistics
Total Hits   Total Hits : 82.520.571
Total Hits for This Month   Month : 1.434.291 Hits
Total Hits for Today   Today : 138.294 Hits
Number of Online Users   Online : 333 Users

Server Statistics  Server Performance
Average Load   Average Load: 0.48 ms
Server Uptime   Uptime: 99.8%
Condition   Status: Good

| Ketentuan | Tentang Kami | Hubungi Kami |
Copyright © 2006-2007, Arsip.Info, Jogjakarta, Indonesia
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia